Se-Candu caffeine atau scrolling sosmed?
Oke, sebelum gue menulis ini gue mau tanya, “apakah kalian
punya akun social media?”
Kehidupan kita sekarang ini gak bisa terlepas dari social media, dimana di era modern saat ini banyak banget informasi yang bisa kita dapatkan dari internet termasuk social media. Kebutuhan informasi yang beragam seperti pola hidup sehat, olahraga, jurnal-jurnal ilmiah sebagai kebutuhan akademik, social issue, kerokhanian, sampai politik. Maupun hanya sebagai hiburan dan alat berkomunikasi atau menambah relasi.
Penggunanya pun bukan hanya kaum remaja dan anak muda tapi juga para guru, PNS, polri, TNI pelaku politik, mahasiswa, siswa, bahkan ibu rumah tangga.
gue mau mengajak kalian flashback, jaman dulu ibu rumah tangga dengan stereotype orang tersibuk dengan segala aktivitas mengurus rumah tangga dan mengurus anak sekarang mereka tak kalah eksis dan aktif berselancar di sosmed. Yah mungkin untuk mengikuti arus zaman dan hiburan, daripada sress mengurus anak dan suami yang gak ada istirahatnya hehe…
Social media membuat kita semakin mudah mendapatkan hiburan
sesaat, ketika penat dengan tugas kantor atau kampus sudah menumpuk dan
membosankan biasanya kita akan buka sosmed scrolling-scrolling beranda melihat
foto teman kita sampai pada baca-baca kolom komentar akun selebritis dengan
teliti, dan tak jarang komentarnya pun tak nyambung dengan foto, dalam kolom
kometar isinya bullyan, cacian, pujian, komentar menyeleneh yang membuat kita
tertawa saat membacanya, dan sampai ada juga yang bertengkar dan adu pendapat
dengan pengguna sosmed yang lain. Dan payahnya kita sering tak sadar bahwa kita
menghabiskan banyak waktu untuk berselancar di social media, padahal waktu yang
kita punya bisa digunakan untuk sesuatu yang lebih produkif lainnya seperti
membaca buku ataupun mengasah skill lainnya. Saking asiknya bersosmed kita lupa
dengan tugas kuliah ataupun tugas kantor yang dikejar deadline.
Namun segala sesuatu yang berlebihan emang gak baik ya, hehe
Selancar di sosmed boleh aja kok, asal jangan sampai jadi
hobi dan bahkan menggangu mental healt dan mengganggu waktu istirahat kita,
sambil menulis ini gue juga riset dan mendapat informasi bahwa menurut sebuah
studi yang dirilis pada 2017 oleh para peneliti dari University of Pittsburgh ,
hubungan antara gangguan tidur dan penggunaan media sosial terlihat jelas.
Studi itu menyimpulkan bahwa cahaya biru berperan — dan seberapa sering mereka
login, daripada waktu yang dihabiskan di situs media sosial, adalah prediktor
yang lebih tinggi dari gangguan tidur, yang menunjukkan "'pemeriksaan'
yang obsesif". Hubungan yang kuat antara penggunaan media sosial dan
gangguan tidur memiliki konsekuensi klinis yang signifikan untuk kesehatan dan
kesejahteraan orang dewasa muda. Dalam sebuah penelitian baru-baru ini, kami
mengetahui bahwa orang-orang dengan kuartil tertinggi untuk penggunaan media
sosial per minggu melaporkan gangguan tidur yang paling banyak. Jumlah menit
penggunaan media sosial per hari adalah 61 menit. Terakhir, kami telah
mempelajari bahwa wanita lebih cenderung mengalami gangguan tidur tingkat
tinggi daripada pria.
Nah kan? jadi lebih candu kopi atau sosmed sih? Hehe…
Sering kan? Saat kita lagi gabut dikit-dikit buka sosmed,
nunggu di stasiun atau di halte buka sosmed, nunggu antrian kasir di
supermarket buka sosmed, nunggu antrian toilet buka sosmed, selesai sholat buka
sosmed, malem saat menjelang tidur buka sosmed, lalu mulai melihat postingan dan foto teman kita yang
kelihatannya semuanya enak, mewah, foto travelling, makan enak, liburan, foto
dengan rekan kerja di kantor, foto keluarga yang harmonis dll.
Terlalu sering buka sosmed bisa mengganggu mental healt kita karena secara
gak langsung kita akan mengcompare kehidupan kita dengan teman kita maupun
selebritis dan pengguna sosmed lainnya. Merasa bahwa kita hanyalah kaum rebahan
yang gak produktif, orang yang gak punya skill apapun, dan tak jarang kita
merasa kurang cantik atupun kurang menarik dan mulai insecure dengan tubuh kita
sendiri. Dan ini menimbulkan efek emosional.
“Salah satu efek emosional yang dipelajari adalah
"depresi Facebook", yang merupakan jenis depresi yang memengaruhi
remaja yang menghabiskan terlalu banyak waktu luang mereka untuk terlibat
dengan situs media sosial. Hal ini dapat menyebabkan masalah seperti sikap
tertutup yang dapat merusak kesehatan seseorang secara negatif dengan
menciptakan perasaan kesepian dan rendah diri di kalangan anak muda. Sebuah
studi tahun 2017 terhadap hampir 6.000 siswa remaja menunjukkan bahwa mereka
yang melaporkan gejala kecanduan seperti penggunaan media sosial lebih
cenderung melaporkan harga diri yang rendah dan gejala depresi tingkat tinggi.
Dalam studi berbeda yang dilakukan pada tahun 2007, mereka yang menggunakan
paling banyak platform media sosial (7 hingga 11) memiliki risiko depresi dan
kecemasan tiga kali lebih besar daripada orang yang menggunakan paling sedikit
(0 hingga 2).” Sumber: https://en.m.wikipedia.org/wiki/Social_media
Nah efek emosional juga perlu diperhatikan ya guys. Jangan
sampai tujuan kita buka sosmed untuk hiburan justru menimbulkan depresi, duuuuh
serem ya…..
Gue pribadi masih ada di antara kaum yang rajin buka sosmed nih, wkwkwk tapi gue bisa membatasi apa yang ingin gue lihat dan informasi apa yang gue butuhin. Ketika gue merasa udah mulai mengcompare kehidupan gue dengan teman atau orang lain, gue biasanya akan stop atau berhenti main sosmed. Gue alihkan dengan cari temen buat ngobrol atau diskusi, atau dengerin musik favorite, baca buku, atau nonton video inspiratif lainnya.
Karena gue sadar semakin gue berlama-lama berselancar di
sosmed gue lupa
jalan pulang eh maksudnya lupa untuk bersyukur, dan malah jadi insecure.
Oke segini aja tulisan gue, gue gatau sih apakah tulisan ini
akan ada yang baca atau nggak, intinya gue cuma pengen ngetik aja, hehe
Sampai ketemu lain waktu guys,,


Comments
Post a Comment